Mengingat Kembali

by andi[thimbu] on June 30, 2010

jas merah jangan sekali-kali merupakan sejarah…

Kebiasaan aku selama ini, ketika akan masuk kantor, aku selalu menyempatkan diri untuk mampir ke warung kopi di perempatan jalan dekat kantor. Sembari menyeruput kopi di warung kopi pak Zan, aku menyempatkan diri membaca koran lokal, Tribun Pontianak.

Di koran lokal itu, diberitakan tentang anjuran mengibarkan bendera setengah tiang guna mengenang Peritiwa Mandor. Aku bertanya dalam hati, apakah kantorku sudah mengibarkan bendera setengah tiang ?, dan apa yang dimaksud dengan peristiwa mandor ?.

Kulihat kantorku yang berada diseberang warung kopi. Apakah kantorku mengibarkan bendera setengah tiang?. Ah, ternyata kantorku pun tidak mengibarkan bendera setengah tiang sebagai pertanda memperingati peristiwa mandor.

Kuingat kembali kejadian beberapa menit silam ketika melewati jalan Jawa saat berangkat kekantor pagi tadi. Kucoba memutar memori otakku tuk mengenang apakah sepanjang jalan yang kulewati pagi tadi ada rumah ataupun kantor yang mengibarkan bendera setengah tiang dihalamannya. Memori otakku mengatakan, tak kulihat satupun rumah dan kantor yang mengikuti anjuran pemda, pikirku dalam hati.

Aku mencoba bertanya kepada senior dikantor yang biasa menikamti kopi di pagi hari bersamaku dan kawan-kawan.

“Om, ngibarin bendera setengah tiang, nggak?” tanyaku memecah keriangan pagi hari.

Sontak pertanyaan usilku membuat beberapa penikmat kopi menjadi terheran mendengar ucapanku. Kulihat di seberang meja kami, seorang laki-laki muda, yang kutaksir berusia 40 tahun menatapku.

Gelak tawa yang membahana di meja kami berubah menjadi bisu. Kulihat kawanku yang berbaju safari biru tua segera menatapku dalam-dalam. Sebuah tatapan keheranan.

Dan ia segera berkata “dahsyat juga pertanyaan kawan ini ?!” sambil tertawa memamerkan gigi putihnya yang rapi.

Lelaki berusia setengah abad lebih yang kutanyai itu terkaget mendengar pertanyaanku “loh, emang ada apaan, ndi?” tanyanya sambil merapikan duduknya di bangku plastik.

Aku segera menjawab pertanyaan lelaki tua yang sudah 20 tahun lebih tinggal di Pontianak “Kan, ada imbauan tuk memasang bendera setengah tiang. karena hari ini ada peristiwa mandor” sambil menaruh lengan kiri dibibir meja kayu.

“wah, om nggak tahu, ndi” tandasnya seakan menyudahi rasa penasaranku.

Aku pun semakin bertanya-tanya, kenapa peritiwa yang sudah ditasbihkan sebagai Hari Berkabung Daerah, sepertinya kurang mendapat respon dari penduduk setempat.

Rasa penasaranku akan peristiwa yang merenggut 20 ribuan jiwa itu semakin menebal. Tapi tak setebal rasa penasaranku akan sikap dingin masyarakat yang ku jumpai diwarung kopi tadi.

Untuk mencoba menuntaskan rasa penasaran ini. Aku segera bertanya kepada kawan sekantor usai minum kopi di warung. Hampir semua sepertinya lupa akan peristiwa itu. Bahkan untuk sekedar menundukkan kepala sejenak mereka alpa.

Menjelang sore, aku menyambangi warung kopi langganan untuk melepaskan penat dari rutinitas kantor yang menjemukan. Di warung kopi itu, iseng-iseng aku bertanya pada penjualnya tentang peristiwa mandor dan anjuran pengibaran bendera setengah tiang.

Wanita penjaga warung kopi menjawab “wah, saya lupa tuh, mas! kalau sekarang ada peringatan peristiwa mandor” sambil menaruh pesanan kopiku diatas meja.

Kucoba kejar kembali jawaban penjaga warkop itu, wanita muda yang berambut ikal sebahu serta mengenakan celana jeans biru dan berkaus kuning, “kok, nggak memasang bendera setengah tiang, mbak ?” kejarku sambil memperhatikan beberapa anak muda “autis” yang sibuk dengan laptopnya di mejanya masing-masing.

“wah, nggak tahu, mas. kalau sekarang harus mengibarkan bendera setengah tiang” ujarnya sembari menoleh ke gedung sekolah diseberang warung kopinya.

Ah, sekolahpun tak memasang bendera setengah tiang, pikirku sambil menyeruput kopi hitam.

Aku pun melamun sembari mencoba membayangkan kejadian 65 tahun lampau. Peristiwa pembantaian yang hampir disamakan dengan genosida. Sekujur tubuh segera merinding mengingat penjelasan kawan tempo hari waktu kutanya kejadian itu.

“Sekitar 21.037 jiwa mati mengenaskan” katanya ketika mulai menceritakan kejadian itu. Aku pun segera mematung.

“Informasi dari mana, sampai kau tahu jumlah korbannya ?” kejarku.

“Jumlah korban itu diperoleh dari data koran Jepang, Shimbun Borneo, yang dulu pernah terbit di Kalbar, bos” tambahnya kepadaku sembari menghisap rokok filter kegemarannya.

“Ooooo, trus ?” kataku yang mulai dihinggapi rasa penasaran.

“Yak, trus kenapa dipilih tanggal 28 Juni ?” ungkapku sambil menyalakan rokok kretek yang sejak tadi masih saja ku pegang.

“oh, mengenai tanggal itu toh !” ungkapnya sambil menganggukkan kepalanya.

“Tanggal itu dipilih karena diyakini sebagai tanggal pembantaian para ribuan tokoh masyarakat pada waktu itu” tambahnya sambil menggerakan jari telunjuk dan jari tengah dikedua tangannya ketika mengucapkan kata diyakini.

Terkejut saya ketika ia memberikan tanda kutip pada kata “diyakini” yang ia ucapkan.

“diyakini” gumamku pelan.

“Yak, diyakini” terangnya sambil menatap mataku. Seakan ia melihat rasa tak percaya dan penasaran yang baru saja kutunjukkan.

“Lalu” lanjutnya kepadaku yang masih dihinggapi rasa penasaran akan kata “diyakini” yang baru saja terlontar dari mulutnya.

“Yak, diyakini” tegasnya kepadaku tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.

“Trus tahun 2007, pemda mengeluarkan perda No. 5 tentang peristiwa mandor” lanjutnya kepadaku sambil memamerkan giginya yang kuning, karena noda rokok dan kopi.

Jawaban kawanku dikafe tempo hari tak cukup menghapus rasa penasaranku. Begitupun jawaban yang kuperoleh dari wanita penjaga warung kopi. Segera aku menyibukkan diri menjadi “autis”. Mencoba larut dalam dunia daring yang penuh dengan “kejutan”. 3 jam sudah ku menatap layar notebook 7 inci yang kubawa dari Jakarta, “kampung besar” yang mendidikku akan kehidupan. Dan mataku mulai lelah. Selelah rasa penasaran akan dinginnya sikap orang-orang yang kutanyai tentang peristiwa itu.

Kulirik jam tangan yang melingkari lengan kiriku, terlihat sudah jam 7.30 malam. Sudah waktunya pulang ke kost-an, gumamku dalam hati. Aku mulai beranjak pulang sembari membeli bir kaleng dingin diwarung sebelah langgananku selama ini. “Siapa tahu berguna buat ntar malam” ungkapku dalam hati.

Sesampainya di kost, segeraku menuju kamar mandi untuk menghilangkan bau matahari yang mulai tercium dari tubuh ini. Tuntas sudah ritual bersih diri dikamar mandi, aku segera membakar rokok kretek. “Betapa nikmatnya” ujarku dalam hati ditengah kesendirian malam.

Sambil terdiam dikamar berukuran 3 X 3 yang beralaskan papan, tiba-tiba aku teringat bir kaleng yang tadi kubeli. Kubuang kantong plastik hitam yang membungkus bir kaleng ke sembarang tempat.

Aku pun segera larut akan rasa penasaran, serta sikap cuek orang-orang yang kutanyai tentang peristiwa mandor, sambil menikmati bir kaleng yang mulai membasahi kerongkongan.

“Dasar bangsa pelupa !”, gerutuku sambil menghabiskan bir kaleng dingin.

Leave your comment

Required.

Required. Not published.

If you have one.